Kamis, Juli 23, 2015

Karena semua sudah diatur sama yang diatas, Mas..

Awal Bulan Oktober 2013

                Aku hanya ingin meluangkan pengalaman pribadi, sebuah pelajaran baru yang bahkan kita selalu menyepelekannya, pelajaran bagi siapa yang selalu berbuat makar dalam melakukan muamalah  dengan cara yang salah, pelajaran bagi setiap orang yang akan melakukanya mendapat pahala yang lebih dari yang lain. Insya Allah.
                Aku hanya seorang mahasiswa biasa sebagaimana pada umumnya, hidup dari kiriman orang tua yang telah dijatah perbulannya, dan kadang terkesan agak boros pada awal mendapatkan kiriman tersebut. Kadang uang kiriman lebih cepat habis membeli makanan yang sekiranya tidak perlu, dari pada kebutuhan pokok dalam perkuliahan, buku. Ya, aku lebih banyak ,menghabiskan uangku untuk makan mewah, dan untuk mentraktir teman-temanku di restoran dari pada untuk membeli buku yang bahkan harganya tidak sebanding dengan harga makanan itu.
                Awal bulan telah datang, mahasiswa pada umumnya menunggu saat- saat seperti ini  karena mendapat jatah kiriman dari orang tuanya. Aku pun juga demikian, kuajak temanku Adit untuk menemaniku keluar kost untuk pergi ke ATM terdekat, biasanya dengan iming-iming ajakan makan untuknya. Malam makin larut jam di tanganku menunjukkan pukul 21.00 malam, kukenakan jaket ku untuk melindungi diri dari angin malam kemudian keluar kost dengan motor.
                Setelah mengambil ‘gaji ’ dari orang tua aku langsung mengajak makan Adit di warung makan Padang langgananku, yang harganya terkesan mahal. Setelah dirasa cukup kenyang kami berduapun pulang. Seperjalanan kami menuju kost kami melihat seorang bapak yang berjualan kacang rebus dan keripik singkong duduk menunggu pembeli yang mampir ke lapaknya. Kebetulan aku juga lagi ingin membelikan ‘oleh-oleh’  untuk kawanku di kost-an sana sebagaimana kebiasaan kami, jika ada yang keluar maka balik ke kost-an harus membawa ‘buah tangan’.
                Kuhentikan motor, kemudian aku dan Adit membeli keripik singkong dua kilogram. Senabri menunggu pesananku, Bapak penjual keripik singkong ini menawari kami berdua dengan kacang rebus yang dijualnya. “ mas, makan mas.. tidak apa-apa kok! Gratis ini hehehe ! ” ujarnya sambil memberikan kami sepiring kacang rebus yang masih hangat. Dalam batinku,bapak ini cukup ramah sama pembeli.
                Kemudian ketika pesananku sudah selesai dan sudah kubayar aku iseng bertanya pada bapak penjual keripik singkong tersebut, “pak, nggak apa-apa nih kita habisin kacangnya?” ujarku bercanda. “gak apa-apa kok mas .. malahan saya senang bisa memberi makanan sama mas ” ucapnya riang. “mas nggak takut rugi ya?” tanyaku selidik. Kemudian ia mengucapkan kata-kata yang tidak mungkin ana lupakan “ semuanya sudah ada yang diatur sama yang diatas mas, untung rugi saya, hidup mati saya, bahkan saya lebih senang nambahin pembeli saya makanan, soalnya kalo dikurangi malah saya yang berdosa rejeki kan gak kemana-mana mas hahaha...” ujarnya tertawa. Riang. Aku merasa ada yang menohok hatiku. Pilu. Bahkan bapak penjual keripik ini senang membuat dirinya rugi, asal pelanggan senang. “ oh.. iya pak bener “ jawabku singkat.
                Kemudian dalam perjalanan pulang aku mengingat lagi ucapan bapak penjual keripik singkong tersebut. Kata-katanya biasa,tapi cukup lugas dari memberikan makna lebih dan jadi pelajaran juga pada diriku. Kadang kita selalu ingin diuntungkan oleh sesuatu, tidak mau rugi,tetapi ucapan bapak penjual keripik tadi cukup memberiku pelajaran berharga bahwa kita hidup untuk memberi lebih kepada orang lain dan semua hal kita sudah diatur oleh Allah SWT yang maha kuasa.
                Ya rabb.... maafkan aku yang kurang bersyukur atas nikmat yang telah kau berikan kepadaku.


*disadur dari kisah nyata dengan beberapa perubahan*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Us @soratemplates