Kamis, Juli 23, 2015

Romansa Koeman dan Skuat Southampton yang terkikis

Barclay’s Premier League.
            Siapa yang tak mengetahuinya? Metamorfosis liga kebanggaan negara dataran Kerajaan Inggris yang pamornya makin mengkilap dengan cara bermainnya yang kick and rush penuh dengan gaya bermain yang cukup memanjakan mata bagi yang melihatnya. Liga besar yang sudah mengalahlan pamor Liga Italia jaman Baggio dan Totti masih berseteru, dan mengalahkan pamor liga Spanyol yang dahulu cenderung relatif, bukan hanya Duo klub raksasa Real Madrid dan Barcelona.
            Liga ini dapat saya katakan relatif dalam setiap pertandingan, mengapa? Karena hampir seluruh pemain dunia berlaga di liga ini, dan juga hampir semua talenta berbakat muncul di liga ini, bisa kita munculkan Cristiano Ronaldo yang dahulunya dielukan setelah naiknya pamor Class Of ’92 didikan Bos Fergie di Theatre of Dream, modern kini muncul talenta berbakat macam Sterling , Ross Barkley, Luke Shaw dan masih banyak lagi yang mungkin akan membuat kita semua ternganga dengan melihat aksi ciamik mereka.
            Kali ini saya akan mengerucutkan pada satu klub yang sempat menduduki perigkat Big Four selama beberapa pekan di musim lalu, bukan Manchester United yang terseok ketika di tunggangi Moyes, melainkan klub yang ada di ujung Hampshire. Southampton.
Kenapa The Saints yang saya bahas kali ini? Karena ada sebuah kisah romansa fiktif yang akan saya ceritakan melalui tulisan saya, ketika sebuah skuat habis dikalahkan oleh materi. Sebuah contoh menarik yag menurut saya perlu sekali saya bahas.
Dalam sejarahnya, The Saints adalah klub Liga Inggris yang didirikan pada tahun 1898 dengan stadion St. Mary’s sebagai kandang perangnya.
Sukses Dengan Akademi Muda Berbakat
            Dalam era modern ini, sesuai yang saya analisa jampir separuh nama nama terkenal akademi Soton adalah orang bertalenta dan berbakat, kita ambil contoh pertama, siapa yang tidak kenal dengan Theo Walcott dan Alex Ox-Chamberlain? Duo winger sprinter milik Arsenal ini adalah akademi asli didikan Soton.
Ox Chamberlain saat masih membela Soton
            Kemudian siapa yang tidak kenal dengan Gareth Bale? Pemain yang cukup versatile dan selalu cocok dengan posisi manapun.
            Nama diatas adalah akademi didikan Southampton yang sudah dahulu keluar dipinang oleh klub Raksasa, Arsenal dan Real Madrid. Pada musim lalu kita masih bisa melihat talenta Adam Lallana yang bermain reguler di Soton.

Ketika walcott masih di southampton
Sihir The Saints dan Pengaruhnya Kini..
  Southampton sudah cukup menyita perhatian saya sebagai pengamat bola amatir. ( Skip It )  gaya bermain ala Mauro Pochettino bermain seperti memiliki indera tambahan, gaya bermain yang tidak monoton , sesekali menunjukan skill individu, Jay Rodriguez dengan gayanya,Guy do Prado sebagai sang supersub,kemudian dengan gelandang jangkar Victor Wanyama sebagai breaker pertahanan musuh yang cukup solid mengarungi musin 2013- 2014 dengan cukup sempurna sebagai klub yang baru saja naik kasta ke Liga Utama pada musim 2012-2013.
            Musim lalu masih bisa kita melihat gaya bermain Luke Shaw yang selalu cukup berani melakukan overlapping hingga setengah lapangan dan gaya sprintnya yang cukup cepat dan selalu tampil impresif, kemudian striker gaek Rickie Lambert yang cukup diperhitungkan untuk di marking, kemudian ada gaya Adam Lallana yang selalu bisa menusuk ke tengah titik pinalti.
            Itu Hanya Romansa semusim. Sepertinya manajer The Saints yang baru, Ronald Koeman bagai patuh pada sebuah fakta yang penuh dengan keniscayaan dan ketidak adilan, bahwa ia harus menyadari bahwa klubnya hanya sebuah klub semenjana, dalam kasarnya baru naik kasta, dan karena penampilan mereka yang impresif dan menjanjikan, ia harus menerima kenyataan, bahwa 6 dari Starting XI  telah berpindah haluan ke lain hati.
            Beberapa pindah dengan berbagai alasan, mencari pengalaman baru, klub lama yang kurang menantang, maupun Liga Champions adalah mimpi bagi seluruh pemain bola yang ada di dunia. Intinya mereka juga manusia, dibalik semua alasan mereka yang masih bisa kita nalar, mungkin ada alasan lain. Uang.
            Dengan hengkangnya beberapa pemain bukan berarti membuat sang manajer patah hati, ia kemudian bangkit dan melakukan scouting ke seluruh penjuru dataran Eropa, menambal yang bolong dan mengisi kedalaman skuad yang dirasa cukup rapuh untuk megarungi Lautan peperangan Liga Inggris yang dikenal cukup beringas.
            Masuknya Dusan Tadic dari klub Belanda FC Twente, dan kemudian penyerang yang flamboyan Graziano Pelle dari Feyenoord dan Gelandang Inverted Winger Sadio Mane sudah ataupun mungkin melipur lara manajer Koeman.
            Ditambah lagi, Sadio Mane berhasil membukukan namanya sebagai pencetak hattrick tercepat di Premier League. Dan juga beberapa pemain mengaku merasa bahagia bermain dengan The Saints, Jay Rodriguez ( yang beberapa hari yang lalu memperpanjang kontrak dengan Southampton hingga tahun 2019, sekaligus mengakhiri spekulasi transfernya ), kemudian ada Nathaniel Clyne juga yang mengaku bahagia di sana, kemudian ada Elias Elija yang mengaku ingin bertahan.
            Entah mengapa, klub yang memiliki pendapatan lebih masih belum maksimal menggunakan jasa juniornya, dan lebih memilih anak yang “sudah jadi”  denga harga yang relatif mahal, yang bahkan kadang belum tentu membantu mengangkat prestasi klub. Barcelona dengan La Masia terbilang cukup sukses dalam hal ini ( pembinaan pemain muda ) mengandalkan banyak pemain muda dan komposisi skuad.
            You can buy with your money anything, but you can’t buy loyal and class.


            Glory The Saints ! Show me YOUR magic again !!

*saat artikel ini dibuat oleh sang penulis, Nathaniel Clyne masih membela Southampton dan sekarang sudah membela Liverpool

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Us @soratemplates