Kamis, Juli 23, 2015

Jakarta dalam Potret

Kilatan cahaya blitz dari kamera yang selalu kubawa bagai kilat ketika hujan. Cepat dan bersinar terang. Kufoto gedung- gedung yang tingginya bagai mencakar langit. Awan diatas yang berarak bagaikan pemandangan yang cukup kontras di kawasan ibukota yang hiruk-pikuk ini. Sudah banyak puluhan, ratusan, bahkan sudah ribuan kali jepretan yang tercipta dari kamera DLSR yang selalu kutenteng kemana-mana. Banyak foto yang menggambarkan keindahan, kekontrasan bahkan ketidak seimbangan. Dalam pepatah juga mengatakan “a picture tell a thousand words”. Sebuah foto dapat mengatakan ribuan kata. Bagiku  itu cukup akrab dalam otakku yang bekerja sebagai fotografer lepas ini.
            Suatu ketika aku memfoto tentang gedung-gedung yang tinggi menjulang, terkadang aku memfoto bagian dari bangunan yang kokoh,indah dan megah. Dan terkadang pula aku memfoto keadaan “ dibalik “ itu semua. Perumahan yang kumuh, anak-anak yang kotor dan kumal mengais makanan di jalanan dan tong sampah, dan beberapa kejadian yang berada dibalik keindahan dan kemegahan bangunan yang ada di ibukota ini.
            Suatu ketika aku mendapat tawaran pekerjaan dari rekananku untuk mencari bahan untuk kolom yang ada di korannya. Aku pun menyanggupinya dengan tema yang ditentukan olehnya “ Jakartaku Kini “, aku pun mulai mencari tempat-tempat yang kukira klop dengan tema yang diberikan. Maklum,sebagai fotografer lepas bagiku pekerjaan seperti ini perlu, untuk mencari nafkah tentunya.
            Aku berkelana sepanjang jalanan di Ibukota mencari foto yang pas dengan temaku ini,mulai dari apartemen milik pengusaha, bangunan mewah milik artis dan bangsawan kaya di negeri ini, hingga sekolah-sekolah swasta yang dibangun oleh konglomerat kaya. Entah dari mana dan bagaimana membangunnya. Setelah hari mulai senja dan awan mulai menampakkan mega, aku duduk di terminal halte, melepas penat sejenak. Aku merenung sejenak tentang negeri yang indah, damai, tentrama dan apalah meski itu hanya sebatas khayalan.
            Lalu aku tersadarkan ketika melihat seorang anak dengan kaki pincang sedang mengais makanan di tong sampah dekat sebuah cafe dan resto yang cukup terkenal, dengan banyak pengusaha dan konglomerat berkumpul membicarakan bisnis dan relasi. Ketika anak itu mendekat ke arah mereka, kulihat sekilas tatapan hina dari mereka yang duduk, tatapan nanar memandang jijik kearah anak yang pincang tadi, sejenak tanganku refleks mengambil kamera DLSR yang kutenteng,lalu kuurungkan niatku tersebut. Hatiku tersentuh terhadap kejadian ini. Sebuah pemandangan yang biasa, tetapi ketika aku yang merasakan tepat dihadapanku saat ini,aku tak bisa berkata apa- apa. Mataku mulai mengembun. Menangis. Aku tak kuasa menahan air mataku yang tak terbendung lagi.
            Aku merogoh kantong ku yang hanya cukup buat perjalanan dari sini ke rumahku,kemudian ku panggil anak tersebut. Sekilas ia menoleh, kulihat ia begitu acuh terhadap tatapan hina dari para konglomerat tadi. Kuat hati anak itu, batinku. Sesaat ketika ia berjalan kearahku, lalu kemudian kuberi ia ongkos pulangku, kemudian kulihat ia tampak bersyukur terhadap pemberianku. Lalu kemudian ia memberikan perintah untuk mengikutinya. Kuikuti langkah yang kira-kira seumura anak sekolah dasar kelas 4. Pada saat ia berhenti di depan rumahnya, hatiku semakin remuk, perasaanku bagai di pukul godam melihat bahwa ia memiliki saudara yang mempunyai tumor di lehernya. Sungguh ironis memang, namun apa daya. Sepertinya anak ini kuat menghadapi cobaannya.

            Lalu anak itu kutanya “ nak, sudah berapa lama adik kamu seperti ini? “ tanyaku pelan. “sudah dua tahun pak.” Jawabnya seperti tanpa harapan. Kemudian ia berkata lagi kepadaku “ terima kasih banyak pak meskipun ini sedikit tapi bapak sudah membantu adik saya “ jawabnya. Ketika hari telah mulai gelap, niat ku untuk berpamitan kepada anak ini tetapi,niat itu kuurungkan. Ku ambil kamera ku dan kufoto anak kecil yang terserang tumor jinak tersebut. Inilah potret jakarta yang sebenarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Us @soratemplates