Rabu, Juli 22, 2015

Opera Pelengseran Takhta Negeri



Ketika para pembesar dari kalangan manapun, mencoba berbondong bondong untuk maju dan mendeklarasikan namanya atau anggota keluarganya untuk menjadi pemimpin di suatu negeri yang entah dimana, Negeri yang dimana penuh dengan kekayaan alam buminya dan juga suakanya tapi entah kemana larinya keuntungannya, negeri penuh dengan anak anak cerdasnya tapi kenapa mereka lebih memilih beranjak ke negeri jiran, prospeknya lebih cerah kata mereka, tahun pemilihan yang selalu ada dalam catur tahun itu yang akan dimulai pada tahun ini, tepat dimana saat Sang pemimpin terdahulu sudah hilang kepercayaan dari kawan kawannya dan juga sudah tudak punya tempat di hati para pendukungnya terdahulunya, tepat saat dimana Sang Ibu Negara mengenal teknologi dan kemajuan, entah apa yang ada di benaknya, lebih menyukai memposting apa yang dia kerjakan dengan keluarga daripada dengan rakyat, alasannya karena dia suadah renta. Miris.
            Tahun Pemilihan ditandai dengan ambruknya sebuah dinasti keluarga di selatan pulau yang sangat padat, dimulai dari kepala hingga antek-anteknya yang juga keluarganya sendiri, ironi memang karena daerah tersebut daerah yang cukup tertinggal tetapi pejabatnya memiliki kekayaan yang cukup berlimpah, sekali lagi opera ini telah dimulai.
            Kawan dari keluarga terdekat dinasti keluarga negeri ini diadili di sebuah komisi pemberantas borok negeri, korupsi, kemudian karena tidak terima dia masuk kedalam bui seorang diri , ia mulai berkicau, berkicau kepada siapapun, awalnya dari pengacaranya yang cukup terkenal di negeri itu, sejurus kemudian masih menyeruak hingga masuk ke media massa hingga akhirnya kawan dari kawan keluarga terdekat ini masuk ke dalam bui yang sama, denga kasus yang sama. Ngilu. Ketika ditanya mengapa melakukan seperti itu ia hanya berkata bahwa ia tidak bersalah, ia hanya seorang whistle blower.
            Menilik dari sebelum opera ini dimulai, Ada seorang qadhi terkenal di negeri itu, dimana ia bersumpah jika ia terkena penyakit borok tersebut ia rela bahwa anggota tubuhnya akan di potong, guyonan yang menurutnya hanya joke ringan tetapi berat d pandang oleh rakyat yang mulai gerah dengan ulah pejabat, anggota parlemen terdahulu, dan qadhi terdahulu juga. Nyatanya ? apa yang terjadi ? sama.... penyakit menular dan mewabah memang cukup susah untuk dibasmi, harus di bunuh tuntas, dan sang qadhi terkena wabah yang sama. Sedih.
            Sudah banyak yang terjadi. Cukup banyak.  Rakyat semakin bingung dibuatnya, rakyat semakin rabun, sudah cukup susah untuk memilih mana yang benar dan yang mana yang salah, yang dulu nya dielu elukan sebagai pahlawan rakyat, kini tak mampu berkata apa apa ketika sebuah bencana menerpa pada daerah yang dipimpinya. Lempar batu sembunyi tangan, mungkin itu peribahasa yang cocok buat pemimpin tersebut. Ketika bencana menghadang, ia malah menyalahkan pembantunya, cukup miris namun tetap begitu masih saja ada yang menaruh simpati kepadanya. Ruwet.
            Zaman semakin maju, rakyat yang tidak mengenal teknologi makin berkurang, dunia maya, dunia dimana seluruh rakyat dapat mengeluarkan pikiran dan aspirasinya juga sudah mulai terjajah, ratusan akun dan website yang mendukung suatu partai ataupun bakal calon pemimpin negeri mulai saling sikut menyikut, semua dan segala cara dianggap halal, semua borok musuhnya dan hingga sebuah kebohongan yang dibuat untuk menjatuh lawan ditumpahkan kedalam dunia ini. Mau dibilang apa lagi? Ini sudah dimulai.. toh opera akan berhenti ketika titisan sang Satria Notonegoro naik menjadi pemimpin negeri antah berantah tersebut.

            Lantas sekarang yang dipertanyakan adalah... siapa titisan tersebut? Apakah ia mampu memimpin negeri dengan populasi yang cukup meledak, dengan sumber daya alam yang memedai dan sumber daya manusianya yang seperti diatas? Apakah ia mampu menghilangkan penyakit negeri ini yang wabahnya sudah muncul ketika pemimpin dengan gaya diktatornya itu? Entahlah rakyat hanya berdo’a semoga negeri ini diberikan pemimpin yang mampu mengerjakan semua itu tanpa pamrih. Semoga saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Us @soratemplates