Sabtu, Februari 11, 2017

Membatasi Perasaan

Bacaan ini untuk anak anak yang sudah cukup merasakan hidup dalam kegalauan dan sudah bisa baca tulis postingan saya sebelumnya.

Sebagai seorang kawula muda, yang sekarang umurnya sudah tidak muda lagi, ahahaha.. (oh thanks Allah, now I'm 21 years old!) sudah mulai banyak yang saya rasakan di angka yang sudah menginjak umur ini, semacam sweet disposition, sudah banyak terlintas, padahal belum beberapa hari, sudah banyak momen yang sekiranya nanti bisa menjadi cerminan dan pelajaran hidup bagi saya pribadi.

hal pertama yang saya rasakan tentunya adalah sebuah kegagalan, iya, kegagalan yang mungkin akan menjadi pelajaran dan menyoroti kami dalam tahun tahun kedepan, alhamdulilah setelah kejadian awal yang sekiranya kami dicurangi dan kemudian mental kami yang belum terbentuk secara sempurna, kami mampu mengatasinya setidaknya dengan kebersamaan yang selanjutnya kami rekatkan bersama sama dengan sebuah touring bersama ke arah Pacitan.

THANKS ISID FC we are "the rising star!"



berkelanjutan, 3 Februari adalah tanda, bahwa fase saya itu telat atau tidak, ada pesan masuk yang berbunyi "selamat ulang tahun mas, semoga sukses. maaf gak bisa ngasih apa apa."

senyum sejenak.

android dalam keadaan gak ada sinyal.

ngebales "sama sama, gapapa kok"

sinyal masih hilang, keadaan baterai makin menipis, gawai pun mati. dih garing aja.

4 hari kemudian hubungan selesai. 

Pikiran berkata lupakan hati semakin menderu mengirimkan sinyal untuk semakin sedih. menyesal atau tidak, duh saya prihatin sama diri saya sendiri. 

So, kembali ke judul yang saya tulis, Bagaimana membatasinya? entah hingga tulisan ini saya publish kan, saya masih mendengarkan lagu "Everglow" milik band Coldplay






atau saya masih mencoba menghafal sebuah pantun milik Jalaludin Rumi yang berjudul 

"The Guest House".

This being human is a guest house.

Every morning a new arrival.


A joy, a depression, a meanness,
some momentary awareness comes
As an unexpected visitor.



Welcome and entertain them all!
Even if they're a crowd of sorrows,
who violently sweep your house
empty of its furniture,
still treat each guest honorably.
He may be clearing you out
for some new delight.



The dark thought, the shame, the malice,
meet them at the door laughing,
and invite them in.



Be grateful for whoever comes,
because each has been sent
as a guide from beyond.


Entahlah, saya juga masih belajar membatasi perasaan, harap maklum.

Ah, mata saya makin kantuk.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Us @soratemplates