Rabu, Juli 19, 2017

Dari Bhayangkaki, Kemauan itu ada Jalannya!

Dimana Ada kemauan disitu ada jalan.


Sering denger gak kata kata itu di sosial media yang kamu telusuri? atau dari kawan kawanmu yang menyemangatimu ketika kamu dalam keadaan putus asa dan butuh semangat? atau ketika guru atau orang tua mu menyemangatimu ketika kamu sedang dalam titik nadir, dalam keadaan yang hidup segan, mati tak mau?

Kata kata ini keluar dari senior ane yang sedang berkunjung ke Ponorogo, dalam liburan panjangnya setelah menyelesaikan studi di Pakistan, kemudian ingin melanjutkan studi Magisternya di Universitas Pertahanan (UNHAN), waktu itu dia berkunjung tanpa sepengetahuan ane, dan ane di kabarin tiba tiba setleh dia sudah landing di kampus ane tinggal. 

Beliau dan kawannya yang pelaku seni berinisial Ibenk langsung bilang ingin mengutarakan pengin ke gunung Bhayangkaki, salah satu ritus yang cukup dan bahkan, ketika ane dan rombongan berangkat kesana, hampir jarang ada yang melakukan trekking, bahkan cross trekking seperti yang kami lakukan.

Bagaimana Perjalanan kami Dimulai....

Dimulai pada planning, meskipun terkesan buru buru dan tidak terplanning kami berangkat dengan personel 5 cowok dan 1 cewek, bisa dibayangin gak? kalian yang awalnya berpikir membawa wanita adalah hal yang berat, kali ini kita membawa wanita yang untungnya punya passion dalam hal menjelajah dan berjalan jauh, meskipun sifat kewanitaan akan selalu muncul di manapun.


Ini Perempuannya, @mutiahmumu akun instagramnya

Jam 03.00 dari planning awal, saya dan Arya, kakak kelas yang jadi senior (emang gitu kan ya?) dan Dicky, mahasiswa pascasarjana kampus saya (ini senior juga) berangkat keluar kampus dan langsung berangkat untuk menjemput teman kami yang perempuan keluar kos, waktu itu jam menunjukkan jam dua, lebih sedikit, sembari menunggu perempuan keluar, kami berusaha menghubungi sepuh yang punya rencana keluar, Ridwan dan Ibenk, yang mana kami hubungi namun gawainya tidak diangkat.

Sempat kesal, namun akhirnya kami mencoba untuk mendatangi dimana mereka berdua tinggal, and then, ternyata mereka masih molor, hadeh. 

namanya juga manusia kadang khilaf...

Sempat ada perdebatan apakah kami akan tetap ke arah gunung Bhayangkaki, atau kah alternatif lain, daerah yang cocok untuk di explore, namun jawaban Ridwan seakan tidak bisa disanggah dan di tolerir, "kita udah tau kok ada gunungnya, masak masih gak berangkat".

Seketika kami langsung menyalakan GPS dan mesin motor.

Berangkat dengan berbekal makanan snack seadanya, dan pengetahuan akan gunung Bhayangkaki tersebut, GPS yang kami gunakan selama perjalanan lancar, hingga akhirnya kami merasa GPS via gawai sudah tidak berkalibrasi dengan paketan data yang kami punya, alias sinyal yang semakin lemot.

Adzan Shubuh berkumandang, akhirnya kami berencana untuk berhenti dan memulai untuk sholat sekalian bertanya kepada masyarakat sekitar mengenai arah gunung tersebut.

"masih jauh mas, nanti patokannya bla.. bla... bla.." ujar masyarakat yang berbarengan sholat berjama'ah dengan kami.

Akhirnya shubuh mulai menghilang dan matahari semakin meninggi, akhirnya kami putuskan untuk menaiki motor dan ketika motor sudah mulai terasa tidak kuat untuk dibawa melaju, kami putuskan untuk memarkirkan motor kami secara sembarangan, di pematang sawah milik masyarakat sekitar.

Perjalanan yang kami kira suda dekat, ternyata butuh berpuluh-puluh kilo untuk dilaluinya, dan ini pertama kalinya setelah beberapa puluh tahun melakukan hiking saya terasa perjalanan ini cukup melelahkan, karena dengan perlengkapan kami sangat sangat minimal dan terkesan seadanya.

Beberapa kali kami melalui jalan berlumpur, berbatu licin dan tajam, well, banyak yang sudah kami (baca: Ridwan) abadikan.


Perjalanan yang kami lalui ada menemukan aliran dari Grojogan Kokok

Perjalanan jauh, peralatan seadanya, lemaknya juga.

Lemak oh lemak~

Dua Jam Perjalanan, hasilnya kami sampai di bawah kaki Gunung Bhayangkaki



Ah, Ponorogo masih terlalu luas untuk tidak di jelajahi
Perjalanan kami ternyata masih belum sampai pada akhirnya, dan kami pun masih melanjutkan perjalanan yang masih sangat jauh, meskipun tidak jauh karena perjalanan kami yang sebelumnya sangat menguras tenaga, kami sudah agak kehilangan banyak cairan dan tenaga untuk perjalanan yang sudah agak menanjak, bahkan beberapa dari kami tertinggal dengan cukup jauh, meskipun udara semakin sejuk, namun tetap saja, namanya juga batas kekuatan kan...

Ya istirahat sejenak guna rehat atau mengambil beberapa foto unik gapapa lah ya..


Ketemu Batang Pohon Tinggi, rugi gak di panjat!

Akhirnya kami sampai diatas setelah waktu jam menunjukkan 07.13 sekian, kalau kami gak salah dan setelah beberapa kali kami melewati jalan terakhir, yang kami lalui adalah semak belukar yang tingginya sudah sampai 1,5 meter hingga keatas, yang kami temukan hanya rumput liar, dan setelah kami melewati semak belukar penuh duri, akhirnya kami sampai di puncak yang paling tinggi di Bhayangkaki.


Setelah ini, kita akan menemui apa?

Ahoy!


Keringet dan Rasa lelah hilang setalah sampai salah satu puncak gunung yang dianggap paling mistis di Ponorogo

Groufie dulu bisa kali yekan~

Jamban Squad, berfoto di pucuk Bhayangkaki

Nikmat mana yang kamu dustakan?

Gak seru ya? 

sampai jumpa di catatan perjalanan saya selanjutnya!




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Us @soratemplates